Ujung penglihatanku hanyalah tertuju pada satu titik, dalam sujud yang merungkuk. Aku merasakan aliran darah yang teramat menyergap segar , bukan lagi hiruk pikuk dunia yang menyetarakan Syahwat untuk mengejarnya.
"Dulu, pada Masa kakek mengejar nenek. Yang terkejar malah ayah nya nenek Cu , lihatlah.. Ini hujan, ini Air dalam bendungan, hujan itu deras turun memburu tanah. Namun tanah memeluknya dengan bendungan. Sama halnya dengan kakek mengejar nenek. Yang kakek kejar adalah Agamanya nenek, modal untuk larinya ilmu agama kakek.Ilmu Agama nenek, dan ilmu agama kakek jadilah bersatu dan menguat diikat oleh kepercayaan Ayahnya Nenekmu. Disitulah Cinta terwadahkan."
Rayu , aku dirayu oleh lantunan di surau itu yang menarik semua kalbuku. Sentuh, aku disentuh oleh Adzan yang Tak pernah Keliru mengajak berukuk.
Kendati Kemurnian Rohani adalah suatu ketenangan yang tak takut sendiri.
Mencari kecerdasan dalam tempurung kelapa itu keras, carilah ia dalam sebuah tunas. Ia tunas yang bersahabat dengan bahan bagaimana kita tercipta , Tanah. Tanah untuk bersujud.
Menenggak pada langit terlalu tinggi, menenggak pada Tuhan akan lebih Tinggi namun bisa mendekatkan jasmani dan rohani. Menunduk oada rumput itu terbatas kaki, menunduk dalam sujud itu kita mampu menengok hati.
Lalu kecerdasan yang mana yang kita dapatkan?
Aku Jawab. IALAH kecerdasanmu yang kamu Ikhlaskan dalam sembahyang dan Allah Meridhokan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar