Wiwi Sln

Minggu, 20 November 2016

Kesakitan Yang Diam

Adakah penggambaran sakit hati yang lebih nyata ketimbang keluhan keluhan curahan dalam tulisan,
Adakah lagi rasa yang bukan sekedar rasa yang semakin terasa dalam indra yang berperasa.
Permainan kah ini?

Saat aku memandang kebahagian , rasa takut itu bersekongkol mengendap malu-malu untuk menunjukan kesakitan. Hingga kasmaran memang sang ahli untuk menyamar. Duhai hati, elok sekali cinta mu. Tapi dunia ini bukan hanya tentang Cinta yang bahagia, karena fana sudah lumrah Tuhan katakan.
Lalu apakah aku posisi paling bawah ketika sedang merasakan kepahitan.

Kadang , aku ingin bersekongkol dengan waktu. Pada malam ia beri aku kesempatan berandai-andai lebih jauh, namun perisai untuk berhati-hati sudah terlalu menyerukan ketakutanku.
Apakah ada masalah yang teramat kecil , masalah yang hanya seperempatnya dari masalah yang sesungguhnya? Masalah yang tak masuk dalam urat nadi yang mengeras? Masalah yang tak memompa darah semakin cepat ke ulu hati kemudian ke jantung? Masalah yang hanya segelintir tak memasuki telinga hingga menyisakan dengung dengung yang menikam.
Namun ia teramat seperti batu, keras dan dihancurkan akan semakin banyak. Lalu melebur dalam kelemahan jiwa yang menjatuhkan. Ia memang begitu.

Kendati apa yang harus aku lakukan untuk menyiasati semua inderaku? Harus mati rasakah aku? Sebagai manusia yang berperasa harus diam kah aku? Sedangkan diam sama saja tak menghasilkan.
mending saja jika ia datang secara Tunggal, berkompromi dengan hati masih lalu bisa berkompromi.
Namun , kali ini ia sering mendatangiku dengan beberapa teman dibelakangnya. Dengan ego, dengan problema ganda, dengan sarana, dengan pedang lidah , bahkan dengan jiwa.

Adakah yang lebih sakit dari Patah Hati?

Adakah penggambaran sakit hati yang lebih nyata ketimbang keluhan keluhan curahan dalam tulisan,
Adakah lagi rasa yang bukan sekedar rasa yang semakin terasa dalam indra yang berperasa.
Permainan kah ini?

Saat aku memandang kebahagian , rasa takut itu bersekongkol mengendap malu-malu untuk menunjukan kesakitan. Hingga kasmaran memang sang ahli untuk menyamar. Duhai hati, elok sekali cinta mu. Tapi dunia ini bukan hanya tentang Cinta yang bahagia, karena fana sudah lumrah Tuhan katakan.
Lalu apakah aku posisi paling bawah ketika sedang merasakan kepahitan.

Kadang , aku ingin bersekongkol dengan waktu. Pada malam ia beri aku kesempatan berandai-andai lebih jauh, namun perisai untuk berhati-hati sudah terlalu menyerukan ketakutanku.
Apakah ada masalah yang teramat kecil , masalah yang hanya seperempatnya dari masalah yang sesungguhnya? Masalah yang tak masuk dalam urat nadi yang mengeras? Masalah yang tak memompa darah semakin cepat ke ulu hati kemudian ke jantung? Masalah yang hanya segelintir tak memasuki telinga hingga menyisakan dengung dengung yang menikam.
Namun ia teramat seperti batu, keras dan dihancurkan akan semakin banyak. Lalu melebur dalam kelemahan jiwa yang menjatuhkan. Ia memang begitu.

Kendati apa yang harus aku lakukan untuk menyiasati semua inderaku? Harus mati rasakah aku? Sebagai manusia yang berperasa harus diam kah aku? Sedangkan diam sama saja tak menghasilkan.
mending saja jika ia datang secara Tunggal, berkompromi dengan hati masih lalu bisa berkompromi.
Namun , kali ini ia sering mendatangiku dengan beberapa teman dibelakangnya. Dengan ego, dengan problema ganda, dengan sarana, dengan pedang lidah , bahkan dengan jiwa.

Do'a

Ini adalah kebimbanganku
Doa yang malu selalu menyanjungku.
Patah, namun doa yang menyempurnakan.
Gagal , namun doa menyimpulkan.
Bahwa aku bermalu namun doa mentuluskan.

Sabtu, 19 November 2016

KEYAKINAN

Ujung penglihatanku hanyalah tertuju pada satu titik, dalam sujud yang merungkuk. Aku merasakan aliran darah yang teramat menyergap segar , bukan lagi hiruk pikuk dunia yang menyetarakan Syahwat untuk mengejarnya.

"Dulu, pada Masa kakek mengejar nenek. Yang terkejar malah ayah nya nenek Cu , lihatlah.. Ini hujan, ini Air dalam bendungan, hujan itu deras turun memburu tanah. Namun tanah memeluknya dengan bendungan. Sama halnya dengan kakek mengejar nenek. Yang kakek kejar adalah Agamanya nenek, modal untuk larinya ilmu agama kakek.Ilmu Agama nenek, dan ilmu agama kakek jadilah bersatu dan menguat diikat oleh kepercayaan Ayahnya Nenekmu. Disitulah Cinta terwadahkan."

Rayu , aku dirayu oleh lantunan di surau itu yang menarik semua kalbuku. Sentuh, aku disentuh oleh Adzan yang Tak pernah Keliru mengajak berukuk.
Kendati Kemurnian Rohani adalah suatu ketenangan yang tak takut sendiri.
Mencari kecerdasan dalam tempurung kelapa itu keras, carilah ia dalam sebuah tunas. Ia tunas yang bersahabat dengan bahan bagaimana kita tercipta , Tanah. Tanah untuk bersujud.

Menenggak pada langit terlalu tinggi, menenggak pada Tuhan akan lebih Tinggi namun bisa mendekatkan jasmani dan rohani. Menunduk oada rumput itu terbatas kaki, menunduk dalam sujud itu kita mampu menengok hati.
Lalu kecerdasan yang mana yang kita dapatkan?
Aku Jawab. IALAH kecerdasanmu yang kamu Ikhlaskan dalam sembahyang dan Allah Meridhokan.